i’ll see you by the orion

Title : i’ll see you by the orion

Author : perihelion

Main Cast : suho, tao, luhan, kris

Support Cast : chen, xiumin, kang seulgi (smrookies)

Genre : friendship

Rating : PG-13

Loosely based on Titanic. Rushed writing, pointless word vomit. Don’t tell me I didn’t warn you. Originally written as an entry for this contest

 

“… Pada kelahirannya, setiap manusia menerima sebuah bintang; dan ketika ajalnya mendekat, bintangnya jatuh ke bumi, pemiliknya wafat, dan jiwanya naik menuju awan.”

(Machal 1964: 273)

 

Desember, 1914

Ia merasa jenuh.

Langkahnya diatur pendek-pendek, bila diperhatikan dengan seksama akan ketahuan bahwa hal itu sengaja dilakukan agar si pemuda melaju lebih lambat. Kedua tangannya terselip, telapak kirinya berulang kali meremas jam saku emas berukir indah. Benda pusaka keluarga—diberikan kepada setiap anak laki-laki tertua tepat ketika menginjak usia dua puluh satu.

“Joonmyun,” tenor sang ayah memanggil, datar. Kim Joonmyun tak punya pilihan. Ia percepat jalannya, menutup jarak antara dirinya dengan pria berumur empat puluhan itu—seorang pengusaha sukses di tanah Britania Raya.

“Simpan lamunanmu untuk nanti, jangan membuat tuan rumah kita menunggu,” imbuh si lelaki paruh baya, nadanya lembut namun Joonmyun tahu pasti; maknanya jauh dari adjektiva satu itu. Joonmyun mengangguk, otomatis, ditambah sahutan formal untuk menandakan ia mengerti pesan sang ayah.

Yes, Father.”

Reaksi a la robot? Mungkin bisa disebut begitu. Tingkah apa lagi, memangnya, yang diajarkan kepada seorang tuan muda selain mengangguk dan mengiyakan ketika dihadapkan dengan ayahandanya?

Mereka menaiki papan menuju haluan kapal, tinggi dan megah seakan memfasilitasi penumpangnya untuk melihat ke bawah dan mencemooh manusia-manusia di dermaga—tampak kecil ketika merunduk sambil memanggul barang, terdengar pelan kala berseru menjajakan apapun yang bisa dijual untuk sebongkah roti. Joonmyun turut memandang ketika sang ayah berdiam di tepian, rasa sendu dan muak bercampur di benaknya.

Perasaan yang Joonmyun tahu ayahnya tidak miliki.

Pagi itu angin tidak bertiup terlalu kencang, tetapi Joonmyun merasa jauh lebih kedinginan daripada saat cuaca buruk.

Dataran Eropa tak lagi aman. Perang pecah dimana-mana, dan bisnis tidak tampak bagus prospeknya. Amerika, kata ayahnya suatu hari. Kau akan menikah dan membuka cabang bisnis kita di sana, selama aku mengurusi usaha kita di negara kacau-balau ini.

Ya, ya, ya.

Gadis yang dipilihkan untuknya, tanpa kejutan lagi, berkebangsaan Amerika. Putri keluarga politikus ternama—yang berarti kelangsungan hidup perusahaan terjamin dan terbukanya akses kepada para petinggi negara. Terkadang Joonmyun harus mengakui, ayahnya begitu mahir memainkan bidak-bidaknya di atas papan imajiner yang membentang dari London sampai Washington—in some ways the old man is that admirable.

“Ada yang salah, Joonmyun?” perempuan muda yang duduk tepat di seberangnya bertanya, rasa khawatir tersirat dari nadanya. Ia lekas menggeleng kecil, memasang senyum terbaik demi terhindar dari pertanyaan lebih lanjut. Kang Seulgi—begitulah cara si gadis dipanggil—berparas cantik dengan struktur wajah ningrat, sosoknya membaur dengan suasana mewah interior restoran dan kemilau cahaya lampu kristal. Gerak-geriknya anggun dan santun, tutur katanya halus, dan sepanjang acara makan malam di penghujung hari itu, ayah Joonmyun tak henti-hentinya menyanjung Seulgi—membuat pipinya bersemu merah samar.

“Jangan terlalu memuji anak perempuanku, salah-salah dia bakal berubah sombong,” kekehan pendek terlontar dari ayah gadis itu, anggur di dalam gelas yang dipegangnya bergetar. “Tapi aku yakin Joonmyun tak akan membiarkan Seulgi bertindak sesukanya, hm? Putra sulung memang selalu bisa diandalkan, apalagi yang secerdas Joonmyun.”

Ayah Joonmyun berdehem. “Sayang sekali, ia begitu pendiam malam ini. Bahkan membuat Seulgi cemas,” kernyitan dahi tertuju ke arah pemuda dengan tinggi rata-rata itu, suatu isyarat yang menandakan Joonmyun harus segera membuat percakapan kalau tidak ingin didamprat ayahnya setelah ini.

“Maaf, rasanya aku sedikit gugup bertemu Seulgi. Putrimu sangat manis, Sir, aku sampai tak tahu harus bersikap bagaimana,” bahu Joonmyun meregang lega begitu calon mertuanya melepaskan tawa lantang. Senyum kikuk terpulas di muka Seulgi, jelas kesenangan. Entah karena alasan apa, gadis ini langsung jatuh hati begitu dikenalkan pada Joonmyun tadi pagi. Pose duduknya kembali ia luruskan, menilik posisi dasi kalau-kalau miring sedikit. Dalam interval yang tepat, ia mengangguk, tertawa, dan menimpali percakapan apapun yang terjadi di meja—nafsu makannya kian lenyap seraya jarum jam berputar makin cepat.

Ah, basa-basi busuk.

Joonmyun menyelinap keluar kabin, malam sudah larut dan kebanyakan penumpang sedang terlelap. Ya, apa asyiknya naik kapal tanpa menjelajahi setiap sudut yang bisa dijangkau? Ia berjalan menyusuri dek Kelas Satu, tidak lagi melihat-lihat karena siang hari telah ia habiskan mempelajari area itu. Tidak ada yang istimewa buatnya, segalanya hanya jiplakan hotel Ritz; dekorasi bergaya Victoria dan Renaissance, sedikit sentuhan era Louis XVI, dan hal-hal yang lazim ditemukan pada rumah peristirahatan kaum berada pada umumnya.Bagi si tuan muda, dek-dek di bawah kakinya barulah hal yang patut ia antisipasi.

Anggap saja bentuk pemberontakan kecil pada sang ayah. Hei, ia pun berhak membandel sesekali.

Bunyi riuh-rendah mampir ke pendengarannya begitu anak tangga terakhir dipijak, cahaya temaram menyinari permukaan lantai kayu. Angin berhembus dari sisi kanannya, di mana pagar yang membatasi dek dengan bermeter-meter jarak menuju permukaan laut berada. Penasaran, ia julurkan lehernya sedapat mungkin dan melihat bayang-bayang sinar bintang terpantul—ikut menari sejalan dengan sulur air yang dibentuk lambung kapal. Langit di London tidak pernah seindah ini, batin Joonmyun.

Derap langkah kaki terdengar dari arah belakang, namun Joonmyun tidak memedulikannya. Bagaimana bisa, ia tengah terpukau akan keelokan semesta yang terhampar di depan mata—

—bruk!

“Amankan dia!”

“Aku memegang tangannya!”

“Sial, Luhan, yang kau tarik itu lenganku—”

“Di sini begitu remang-remang, aku tidak bisa melihat apa-apa…”

Kekacauan itu baru berhenti setelah Joonmyun berseru nyaring, “What the hell?!

Perlahan, kelompok laki-laki muda yang menindihnya barusan bangkit satu per satu. Sebelah tangan terjulur padanya, dan Joonmyun menyambutnya sebelum ia ditarik berdiri. Salah seorang dari mereka lantas maju, melipat tangan di dada lalu berkata, “Dengar, apapun masalahmu, melompat ke sana tidak menyelesaikan segalanya.”

Ha?

Ekspresi tidak sopan pastilah terukir di wajah Joonmyun, karena sedetik kemudian satu tinju mentah mendarat di pipinya.

“Anak orang kaya—selalu saja cari jalan keluar termudah,” pemuda itu menggerutu lagi, telapaknya mengusap-usap buku jari yang baru saja digunakan untuk menghajar Joonmyun.

“Wah,” Joonmyun terengah, guratan darah tampak di punggung tangan yang dipakainya untuk menyeka mulut. “Ternyata begini rasanya dipukul.”

“Apa kau bilang?” si pemuda membelalak tak percaya, maju lagi selangkah hingga Joonmyun bisa mengidentifikasi fitur-fitur sosok yang kelihatannya tak lebih tua dari delapan belas tahun. Tinggi badannya jauh melampaui Joonmyun, bertubuh langsing namun bugar, mata dan mulutnya membentuk garis tajam.

Pulih dari kekagetannya, Joonmyun langsung membalas, “Siapa yang hendak bunuh diri? Jangan salah sangka. Aku baru saja bertunangan, akan membentuk bisnis dan keluarga. Apa aku terdengar seperti seseorang yang sudah bosan hidup?”

Sejenak, tak ada yang berkata-kata.

“Huang Zitao,” terdengar suara dari baris belakang—berat, stabil, berbahaya—membuat Joonmyun merinding. “Minta maaf pada tuan ini, segera.”

“Aku Yifan,” Pria-Bersuara-Berat-dan-Berbahaya memperkenalkan diri. Jika remaja tanggung yang disebut Huang Zitao tadi tinggi menjulang, maka Yifan ini bisa dibilang setengah raksasa. Posturnya jangkung, puncak kepalanya nyaris menghantam kusen pintu ketika mereka melangkah masuk ke bar Kelas Tiga. Ia duduk bersama Joonmyun, dengan santainya mengeluarkan sebatang rokok dan mengarahkan api pemantik agar membakar ujungnya. Kedua kawan Yifan segera kembali dengan empat gelas bir.

“Minum, anggaplah untuk menghapus rasa tak enak kami atas kejadian tadi,” sambungnya lagi. Asap berbau tembakau segera mengisi ruang udara, yang tak tersisa banyak mengingat tempat itu penuh sesak.

Joonmyun mengamati cairan kuning berbuih di hadapannya tak yakin—baunya amatlah asing di hidung pemuda yang seumur hidupnya hanya pernah menenggak sampanye dan brandy mahal, sehingga ia tak yakin apakah likuid itu layak diminum. Tetapi tidak baik bila ia menolak sopan-santun sesama pria, maka didekatkannya bibir gelas itu ke mulutnya.

“Yifan, benarkah ini ide baik? Mana pernah anak ini minum bir murah sebelumnya,” Zitao menumpu dagu di telapak tangannya, binernya bolak-balik menatap Joonmyun dan Yifan.

“Aku bukan anak-anak,” kening si pemuda berkerut, meletakkan kembali gelasnya. “Umurku sudah dua puluh satu, sedangkan kau tampak tak lebih dari enam belas bagiku,” katanya pada Zitao.

Luhan terbahak tidak sopan sembari memukul meja beberapa kali. “Wow, Nak, akhirnya seseorang berhasil mengira umurmu dengan tepat,” sudut-sudut matanya berair, sementara Yifan masih meminum birnya tanpa terganggu. “Bocah ini sering dikira sudah dewasa, bahkan bisa mengekor ke bar bersama kami,” ia mengedip ke arah Joonmyun.

“Bagaimana kau tahu?” si bocah terperangah.

“Entahlah—tak terlihat dari wajahmu, tapi kelakuanmu mengatakan sebaliknya,” Joonmyun mengendikkan bahu, perhatiannya kembali ke minumannya. Diteguknya cairan itu cepat dan dirasanya sensasi terbakar di kerongkongannya—membuatnya terbatuk-batuk hebat.

“Tuh kan, aku tahu ini ide buruk,” Zitao bergegas mengambil air.

“Wah, ternyata benar kata mereka. Minuman ini terlalu kasar untuk kaum kaya,” Luhan berkomentar, seringai menyebalkan tersungging. Walaupun pemuda ini berparas paling feminin di antara mereka, jelas bahwa perilakunya berbanding terbalik.

“Mengetahui hal itu, kau tetap memberikannya?” mata Joonmyun memerah, ia buru-buru melancarkan air mineral masuk ke sistem tubuhnya. Pertanyaannya dibalas dengan kibasan tangan di depan wajah—gestur Luhan seakan sedang mengipasinya.

“Kami akan membelikanmu kopi kalau mau, tapi ampasnya sebesar dedak-dedak sapi,” Yifan menawarkan, ketenangannya tidak terusik oleh tingkah kekanakan teman-temannya. Joonmyun menggeleng kuat.

No thanks, aku baik-baik saja dengan air biasa.”

Pemuda dingin dan rupawan itu mengangguk, rokoknya ia biarkan menggantung di pinggir asbak. “Nah, bisa kau jelaskan apa yang kau lakukan di pinggir pembatas dalam posisi seperti tadi? Zitao memang tampak sangar, tapi hatinya mulia—ia pikir kau harus diselamatkan,” Yifan menelengkan muka ke arah juniornya, yang tampak tersipu hingga kupingnya memerah. “Sedangkan Luhan, ya, jangan tertipu dengan penampilannya.”

“Aku hanya ingin melihat permukaan laut lebih dekat, itu saja,” alis Joonmyun bertaut, mengingat-ingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu. “Tahu-tahu seseorang mendorongku sampai tersungkur di lantai, kemudian punggungku ditindih beberapa orang seukuran pria dewasa.”

“Aku dan Zitao,” Luhan nyengir kuda, rambut ikalnya yang berwarna kecokelatan tampak terang tertimpa cahaya lampu. “Yifan ini selalu mengangkat kepala terlalu tinggi dan melewatkan kesenangan yang kami lakukan.”

“Aku hanya menjauhkan diri dari kebodohan,” sergah pemuda yang teramat jangkung. “Tidak seperti kalian yang sengaja mencarinya.”

“Hei, Zitao hanya bermaksud baik, dan sebagai kakak aku sudah jadi kewajibanku untuk mendukungnya,” Luhan berdalih. “Lagipula, andai kata kau memang pintar sudah kau hentikan kebiasaan buruk itu, Wu Yifan,” si pemuda bermata besar mencibir ke arah rokok tipis yang terselip di jemari Yifan.

Sejenak, meja itu hening. Agaknya Luhan baru saja menyentuh subjek pembicaraan tabu.

“Um… kalian kakak-beradik?” tanya Joonmyun canggung. Mereka bertiga sama sekali tidak mirip.

“Dulu kami tinggal di penampungan. Setelah Luhan dan Yifan cukup umur, mereka membawaku pergi ke kota. Bekerja apa saja, asal bisa hidup jauh dari tempat mengerikan itu,” Zitao menjawab dengan nada ringan, pandangannya menerawang ke sembarang arah kala ia mengenang situasinya. Tak seperti Zitao, kedua ‘kakak’-nya menunjukkan air muka getir.

“Kami tidak ingin masuk militer dan meninggalkan Zitao ke medan perang,” Yifan menambahkan. “Kupikir Amerika tempat yang tepat untuk memulai hidup baru. Seluruh harta kami dibelikan tiga tiket kapal ini—RMS Deitic—dan yah, kita lihat saja sesampainya di sana.”

Joonmyun terdiam. Mendapat tempat di kapal uap ini pastilah tidak mudah bagi penduduk dengan status sosial seperti mereka—bersaing dengan jutaan masyarakat Eropa lain yang ingin segera angkat kaki dari benua itu, ditambah lagi dalam keadaan pelik seperti sekarang. Jerman tengah menyerang Prancis dan Belgia, dan pemuda-pemuda Inggris dikirim sebagai bantuan perlawanan.

“Omong-omong, bisnis apa yang keluargamu jalankan?” Luhan tampak penasaran. Gelasnya baru separuh kosong, tetapi bayang kemerahan telah menjalari mukanya. Joonmyun tertawa dalam hati; meskipun lagaknya sok jagoan kelihatannya toleransi alkohol Luhan agak payah.

“Lu, jangan menahan tamu kita lebih lama,” Yifan memotong gusar, mungkin sungkan karena pemuda di sampingnya menanyakan hal pribadi kepada seseorang dari kasta yang lebih tinggi. “Apa kau tidak seharusnya kembali ke atas? Kami tidak ingin mendapat masalah jika… kau tahu, kau kedapatan sedang beramah-tamah dengan kami.”

Apa itu tadi? Usiran halus? Joonmyun memasang muka datar, menyusun kata-kata dalam kepala.

“Aku hanya ingin tahu, itu saja. Tuan Muda kita pun agaknya tak berkeberatan kalau hanya mengisahkan sedikit… hik,” Luhan positif mabuk, sampai cegukan segala. Zitao terlihat mengantuk, mungkin setengah sadar ketika ia berkata, “Aku juga ingin dengar cerita…”

“Kalian—”

“Tidak apa-apa,” Joonmyun langsung menukas, melirik penunjuk waktu di sakunya. “Aku tak menolak bercerita, meskipun Yifan ada benarnya… aku harus kembali. Aku akan berkunjung lagi, itu pun kalau kalian mau menerimaku.”

“He, benarkah? Asyik! Tidak apa ‘kan, Yifan?” mendadak dua pasang mata menatap penuh harap. Entah dari mana aliran adrenalin datang dan membuat jantung Joonmyun berdegup kencang. Kesempatan untuk bercengkrama dengan orang-orang seperti mereka tidak datang dua kali—dan ia tahu alasan dirinya di sini bukan hanya untuk sekadar mendapat teman.

Andai saja ayahnya tahu ia tengah bergaul dengan rakyat jelata—mereka yang sehari-hari memakan roti busuk, memakai kaus kaki berjamur dan jaket kumal yang jahitannya lepas-lepas—ha, mungkin pria itu akan terkena serangan jantung.

Pemberontakan kecil pada sang ayah? Bisa jadi.

Pandangan tajam Yifan bertemu milik Joonmyun. “Kuharap kau tahu apa yang kau lakukan.”

Pemuda bermarga Kim itu tidak kembali sampai dua malam kemudian, dengan sengaja mengenakan atribut pakaian yang lebih sederhana. Rompi dan jasnya ia tanggalkan, menyisakan kemeja yang diselipkan ke balik pinggang celananya. Sepotong jaket yang sudah agak kumal ia pakai lagi, bau lemari dan aroma lembab samar menguar.

“Hei, lihat siapa yang datang. Mana setelan tiga lapismu, O’ Tuan Kim Yang Terhormat?” Luhan menertawai rupa Joonmyun malam itu. Suasana bar lebih ramai dari sebelumnya, kali ini lebih banyak sorak-sorai yang menggema akibat kehadiran rombongan kelasi yang sedang tidak bertugas. Dengan gugup ia hampiri ketiga kawan barunya, berharap penampilannya tidak menarik perhatian kelompok pelaut berbadan kekar di tengah-tengah ruangan dan mendapat masalah.

“Dengan pakaian setipis itu kau bisa masuk angin,” Yifan bergumam, kelopak matanya menyipit saat memeriksa figur Joonmyun. Sehelai syal—entah hijau atau cokelat, begitu kotor sehingga Joonmyun tak dapat mengenali—dilempar ke arahnya.

Sebelah alisnya naik. “Ini—”

“Pakailah kalau tak mau sakit,” bariton pria di hadapannya bersuara, nadanya lebih cenderung memerintah. Dililitkannya benda itu di lehernya—terasa agak gatal waktu bersinggungan dengan kulitnya—lalu mengerling. “Bagaimana denganmu? Aku tak akan bertanggungjawab kalau sesuatu terjadi denganmu, Mr. Wu.”

Yifan mendengus, lalu mengacungkan gelasnya beberapa senti di atas meja seolah berkata, Tak sepertimu, buatku minuman ini sudah cukup menghangatkan, dan juga wanita itu, begitu seorang pelayan bertubuh sintal lewat di dekat mereka, terkikik genit kala Yifan melempar senyum ke arahnya. Joonmyun bergidik—ia dibesarkan sebagai penganut Kristen yang taat.

“Kau membuatnya takut, kakak bodoh,” Zitao memotong, menarik si pemuda kaya menjauh dari sana. “Yifan tahu dia tampan. Jika sifat Don Juan-nya sedang kumat ia bisa jadi sangat menyebalkan.”

“Tidak seberapa menyebalkan buatku,” Joonmyun menjawab diplomatis, walaupun tawanya terdengar dipaksakan.

Usulannya untuk pergi ke buritan disambut kata sepakat oleh Zitao. Ia tak begitu hapal dengan jajaran lorong dan tikungan di kapal ini namun untung baginya bahwa Zitao tahu jalan, karena tiba-tiba harum laut terdeteksi begitu dekat dengan penciumannya. Malam cerah tak berawan—bagaimanapun, ini baru pertengahan Desember—dan langit musim dingin menampakkan koleksi konstelasi bintangnya.

“Cepat atau lambat pemandangan seperti ini mustahil bisa dilihat di kota,” ulas Joonmyun pelan, sesaat setelah mereka berbaring telentang menghadap angkasa (“Persetan dengan masuk angin, gunakan jaketmu sebagai alas—ya, seperti itu,”). “Revolusi Industri banyak membuat hidup orang sulit. Pengangguran melonjak, polusi udara menyebabkan penyakit, asap cerobong menutup jarak pandang ke langit, membuat awan menghitam…”

Zitao tak bergeming, namun Joonmyun tahu ia mendengarkan.

“Ayahku memberikan alat untuk melihat bintang—teleskop namanya—dan perangkat itu benar-benar jenius. Bagaikan membawa kita lebih dekat dengan kerlap-kerlip putih di atas sana.”

“Tidak semuanya putih,” Zitao berkata ragu-ragu. “Kalau tak salah, aku ingat melihat titik yang bersinar kemerahan.”

Joonmyun tersenyum. “Kau benar. Yang kau lihat itu kemungkinan adalah Mars.”

“Mars?”

“Ya, planet yang dinamai atas dewa perang Romawi.”

Pertanyaan Zitao datang bertubi-tubi, membuatnya kewalahan namun tetap ia jawab sejauh pengetahuannya mengizinkan. Memanfaatkan janji Joonmyun untuk bercerita dengan sangat baik. Debur keras ombak sesekali menghantam sisi kapal, dan mereka akan bangkit sambil tergelak ketika kapal terombang-ambing.

Luhan muncul tanpa ada yang tahu kapan pastinya. “Oke, oke. Cukupkan sampai di sini mendongengnya. Taozi, ini sudah lewat jam tidurmu.”

Anak lelaki yang berumur paling bontot di antara mereka terpingkal. “Lu, kau hanya iri karena tidak mendengar cerita Joonmyun dari awal!”

Tak ada fantasi dan mitologi jika ia mengobrol dengan Luhan; mereka berdebat soal bisnis, perang, dan Amerika. Untuk ukuran penduduk kelas buruh, pemuda ceking itu ternyata tahu banyak. Pemikirannya seringkali kritis dan tidak biasa—entah serius atau ide gila saja. Sayang sekali, pikir Joonmyun. Jika keadaannya lain, tentunya ia bisa belajar di Cambridge.

Hari sudah hampir pagi ketika Joonmyun pertama kali menguap malam itu. “Apa kalian tidak akan dimarahi Yifan kalau semalaman di luar?” tanyanya dengan suara seperti orang sedang berkumur.

“Memarahiku? Enak saja! Punya hak apa dia mengomeli orang yang lebih tua?!” sembur Luhan.

“Kau?!” mata Joonmyun membeliak. “Kau lebih tua?!”

“Ada yang salah dengan makananmu, Joonmyun?”

Pertanyaan sang ayah menariknya kembali ke dunia nyata. Dek Kelas Tiga dan segala petualangan yang ia alami di sana membayangi benaknya terus-menerus, sampai ia tak sadar bahwa seisi meja memandanginya dengan tatapan aneh sedari tadi. Piring para kolega bisnis keluarganya telah separuh kosong, sementara makan siang miliknya hampir-hampir belum disentuh.

“T-tidak,” ia mendengking lemah. Get yourself together, hati kecilnya mendesis. Ia mengusahakan agar dirinya tidak tampak gelisah laksana orang punya dosa, takut mengundang kecurigaan.

“Nampaknya kau kurang sehat akhir-akhir ini. Apa kau tak bisa tidur?”

Glek. Tebakan ayahnya hampir tepat sasaran—bukan tak bisa, ia memang tak mau. Kontan pemuda itu mengelak, “Jangan khawatir, Yah. Mungkin aku hanya mabuk laut.”

“Anakku, apalah artinya kita-kita ini dibandingkan kekuatan alam yang begitu mutlak!” seorang rekanan mereka menanggapi dengan gelak tawa. “Bahkan lelaki muda seperti dirimu mengalami masalah di atas laut. Ada baiknya jika kau memesan minuman hangat.”

“Menurutku hendaknya ia kembali ke kabin dan memanggil dokter,” istri pria itu bersimpati.

Joonmyun menimbang sesaat—terjebak di sini dan terus berpura-pura jadi boneka, atau berbohong dan mengambil kesempatan kabur dari sangkar emasnya.

“Sebaiknya aku menerima saran Lady Jung,” ia berkata lambat-lambat, ekor matanya mencari persetujuan sang ayah. Garis di wajah serius pria itu tidak berubah sama sekali kala mengangguk singkat.

Dalam sekejap ia dikelilingi lagi oleh hiruk-pikuk suasana dek rakyat biasa. Ia tidak menemukan tiga bersaudara yang dicarinya di sekitar bar, tetapi seorang pengunjung reguler di sana—Minseok—bersedia mengantarnya menemui mereka. Kabin Kelas Tiga tidak berupa kabin; tempat itu hanyalah ruang luas dengan ranjang susun diatur untuk mengakomodasi ratusan penumpang dan lebih mirip kemah militer. Kenalan barunya, ternyata, tidur di ranjang yang berdekatan dengan Yifan, Luhan dan Zitao.

“Menemui kami di siang bolong,” Luhan bersiul kagum. “Kau semakin berani, anak muda.”

Joonmyun menyeringai. “Begitulah. Omong-omong, bukankah ini sudah masuk jam tidurmu wahai kakak tertua?”

Yifan dan Minseok bahu-membahu menahan Luhan yang murka agar tidak mencakar wajah Joonmyun, sementara Zitao menepuk-nepuk sisi tempat tidurnya.

“Kau bisa duduk di sini,” ujarnya ceria. “Meski tidak senyaman tempat tidurmu di kabin Kelas Satu, sayangnya.”

Disambutnya tawaran itu dengan lapang dan segera menghempaskan diri ke kasur, meraba sprei linen yang terasa kasar di ambang jemarinya.

“Bukankah ini waktunya makan siang? Apa yang kau lakukan di sini?” Yifan menyelidik.

“Aku sedang tak ingin bersantap, itu saja. Aku lebih suka berada di sini… membuka wawasan.”

“Serius? Kau melewatkan makanan enak-enak demi lingkungan buruk ini?” Luhan terbahak keras-keras.

Pembicaraan tentang makanan berlanjut beberapa saat, teman-teman Joonmyun dari kelas sosial bawah bergiliran menceritakan padanya soal sup dingin hambar dan roti liat, bola mata yang berputar penuh rasa iri dan susu basi. Sisa hari itu mereka habiskan dengan menyimak penuturan Joonmyun tentang salmon asap, kalkun hangat, sayur-mayur hijau dan buah berwarna-warni, juga kue-kue berhias krim, gula dan saus cokelat. Joonmyun bercerita tentang tata krama di meja makan yang ketat, tentang kaum berada yang senang pamer harta benda dan bermulut manis (“Menjilat—hanya dengan cara itu mereka bertahan hidup,” kata Luhan pedas, diikuti sodokan pelan di pinggangnya oleh Yifan), dan bagaimana ayahnya menggariskan jalan hidup untuknya—dan betapa menyenangkannya berada di antara mereka walau sebentar saja, jauh dari aturan yang mengikatnya bak tali kekang kuda.

“Benar ‘kan ceritaku, temanku Joonmyun bukan orang kaya biasa,” komentar si bocah lugu kepada Minseok, yang tersenyum mendengar perkataan polos barusan.

“Kapanpun kau merasa penat,” Yifan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kau bisa datang ke sini. Menghibur Zitao dengan ceritamu—ah, kurasa aku berutang terima kasih untuk itu.”

Ucapan itu tedengar lebih tulus dari apapun.

Ia bertemu Minseok sebelum waktu sibuk bar dimulai, lagi-lagi kabur dengan alasan tak enak badan dari makan malam. Ketiga bersaudara yang telah menjadi kawan perjalanannya selama berada di atas Deitic belum nampak batang hidungnya, maka Joonmyun menerima tawaran untuk duduk bersama pemuda berperawakan sedang itu dengan senang hati.

“Minggir, pelaut. Beri tempat untuk teman baru,” Minseok mendorong beberapa orang yang duduk di sampingnya, menyisakan sedikit ruang kosong bagi Joonmyun. Si pemuda kaya nyengir kaku kala menyadari kelompok manusia yang kini berbagi meja dengannya adalah sama dengan kumpulan pelaut yang diseganinya beberapa malam lalu. Dan tidak semengerikan yang ia sangka—walaupun volume bicara mereka sungguh keras, dibarengi bau menyengat alkohol murah keluar dari mulut.

“Kelihatannya kau cukup bugar, Nak. Bagaimana jika kutantang kau beradu panco?” kata salah seorang dari mereka, mabuk berat walau bulan belum naik, sementara yang lainnya ikut memanasi. Joonmyun rutin berkuda—benar, hal itu membuatnya sehat tetapi tidak menjadikannya memiliki kekuatan otot lebih. Ah siapa peduli, pikir Joonmyun seraya mengatupkan telapaknya dengan milik penantangnya. Persaingan berlangsung beberapa menit dan punggung tangannya roboh ke permukaan meja, begitu terus sampai akhirnya ia melawan Minseok. Pemuda itu berhasil mengalahkannya dalam beberapa detik saja.

“Kalau kau masih belum puas dipecundangi,” Minseok memegangi perutnya yang sakit karena terbahak terlalu keras, “kau harus bertemu Jongdae.”

Jongdae, as it turns out, adalah pesulap jalanan di siang hari dan pelaku bisnis haram di malam hari. Sebutannya bermacam-macam; tukang tipu, pencuri, penyihir.

“Julukan yang terakhir itu sungguh absurd,” renung Jongdae, parasnya tampak geli. “Kami lebih suka disebut con artist—kau tahu, yang kami lakukan ini adalah seni.”

Jongdae menunjukannya berbagai trik; kartu remi, gelas sloki, uang koin, sendok makan, segala benda kecil yang terpikirkan manusia maka Jongdae bisa membuat tipu daya atasnya. Baik koper sampai brankas sekalipun tak aman dari teknik manipulasinya. Joonmyun mengajak pria bermata lancip itu bertarung dalam permainan favoritnya—catur—kali ini bahkan mempertaruhkan sebotol wiski mahal yang ia selundupkan di balik jaket. Mata sang ‘seniman’ lantas berbinar, dan pergulatan mereka berlangsung sengit sampai Luhan datang dan merampas minuman yang menjadi bahan pertaruhan.

Manik kedua petarung nyalang, menatap horor kala Luhan menyeruput cairan itu sedikit demi sedikit.

“Wow,” desah si tamu tak diundang dengan wajah berseri-seri. “Baru pertama kali aku merasakan minuman seenak ini; meluncur begitu saja di tenggorokanku dengan halusnya—” koar-koarnya terputus begitu Jongdae menubruknya sampai tersungkur ke lantai, berguling seraya melancarkan tinju untuk satu sama lain.

“Aku tidak pernah tahu menonton perkelahian ternyata seseru ini,” bisik Joonmyun di telinga Yifan begitu ia dan adiknya muncul, di tengah-tengah umpatan kotor dan teriakan kasar. Yifan melengos.

“Setiap musim berganti, susunan rasi bintang yang terlihat di langit pun tak akan sama,” terang Joonmyun, kembali berada di buritan dan telentang. Hanya ada ia dan Zitao malam itu, dan inilah aktivitas yang mereka paling sukai jika sedang bersama. Si bocah menggumam senang di sampingnya, selalu memelas dan meminta lebih banyak cerita. Joonmyun selalu memenuhinya—menyukai antusiasme Zitao yang mendengarkan kisahnya bagai dongeng anak-anak.

“Apakah artinya setiap musim memiliki kelompok konstelasi yang berbeda?”

“Ya. Contohnya, kumpulan yang membentuk trapesium di sana,” telunjuk pemuda yang lebih pendek mengarah ke satu koordinat. “Itu adalah Orion. Sang Pemburu, Pemanah—bila sudah terlihat di langit artinya musim dingin telah datang. Sebelum kalender dibuat, begitulah cara leluhur kita mengetahuinya.”

“Jadi… lamanya musim ditentukan oleh pergerakan rasi-rasi di atas?” Zitao menerka.

“Hampir tepat. Bukan mereka yang berpindah, tetapi planet ini,” jelas Joonmyun hangat. Kali ini persiapan mereka melihat bintang jauh lebih baik dengan dua lembar selimut. “Kemajuan peradaban sangat tergantung dari kemampuan masyarakatnya membaca langit. Kapan harus bercocok tanam, menimbun makanan untuk musim dingin, dan sebagainya.”

“Mereka tampak kecil dan jauh, tetapi memiliki andil dalam kehidupan kita,” racau Zitao tak jelas. “Mereka cukup punya kuasa. Terbuat dari apa sebenarnya?”

Stardust, mungkin?” jawab Joonmyun asal. Jemari lelaki muda itu memilin ujung rambutnya sembari ia berpikir. “Omong-omong, beberapa kepercayaan mengatakan mereka terbuat dari jiwa-jiwa yang sudah mati.”

“Benarkah?” semprot Zitao kencang, melotot ke arah sosok di sebelahnya. Mau tak mau Joonmyun tertawa geli, buru-buru mengklarifikasi. “Itu hanya mitologi orang dulu. Menurut bangsa Mesir mereka yang mati akan bersanding dengan dewa-dewa dalam wujud bintang. Bangsa Slavik percaya bahwa masing-masing manusia memiliki bintangya sendiri; ketika maut menjemput, bintangnya jatuh, sementara arwahnya naik ke atas awan.”

“Wow, itu berarti trilyunan manusia…”

“Sains mengatakan benda itu hanya terdiri dari plasma, tapi aku juga kurang mengerti.”

“Hm,” Zitao membalas dengan gumaman. “Entah ya, aku lebih suka jika mereka sama seperti yang mitos-mitos zaman dahulu katakan—kedengarannya lebih baik buatku.”

Sejenak mereka berdiam; menatap butir-butir energi yang bersinar ribuan tahun cahaya jauhnya, menghirup udara dingin yang bercampur uap asin, dan tak memedulikan hal-hal lain dalam kehidupan. Status kaya dan miskin tak mengubah kenyataan bahwa mereka hanyalah sesama makhluk yang begitu minor di bawah keagungan semesta.

“Ya,” Joonmyun menyahut perlahan. “Ya, buatku juga.”

RMS Deitic akan mencapai destinasinya tiga hari lagi. Tanah kemerdekaan; Amerika.

Kim Joonmyun berada di kabinnya yang mewah, berbaring menatap langit-langit sementara tubuhnya dimanjakan bantal empuk dan selimut kapas hangat.

Subuh segera datang, tetapi ia masih terjaga.

Pikirannya berkeliaran di tengah bayang-bayang asap rokok yang mengepul, bir murah, tawa dan senyum hangat serta harum kebebasan yang begitu kental di inderanya.

Jenuh dan penatnya menguap di udara, hampa di relung hatinya terisi, dan Joonmyun tersadar, akhirnya, bahwa ia menginginkan langit malam yang bertabur benda-benda angkasa menjadi dunianya.

(Dan ia akan mendeklarasikannya besok, langsung pada sang puppetmaster yang masih menggerakan tali-tali kendali hidupnya).

Tamparan keras terjadi secepat kerjapan mata—berlanjut rintihan bisu dan tangisan kering.

“Kukira bergaul dengan sampah masyarakat untuk sementara tidak akan mempengaruhimu seburuk ini, Kim Joonmyun,” sang ayah memandangnya dari atas tanpa belas kasih, bicaranya melambat tertahan amarah.

Batin Joonmyun mencelos, mata kirinya begitu bengkak hingga tak bisa dibuka. Bebal, keras kepala, durhaka. Ayahnya melontarkan kata-kata pahit tanpa henti, tetapi Joonmyun bersikukuh pada pendiriannya. Tidak, tidak, tidak, aku tak akan mengubah pilihanku.Ia dibiarkan tergeletak di kabin, berlumur darah dan rasa sakit—harga yang harus ditebus untuk bebas dan merdeka. Ia bertahan semampunya, tidak mau menuruti sang ayah setelah ia tahu bahwa makna hidup jauh melampaui citra dan kekayaan semata.

Terdengar ribut-ribut di luar, namun kesadaran Joonmyun sedikit kacau akibat hukuman tadi. Ia bisa jadi sedang berhalusinasi ketika mendengar jerit melengking Luhan di balik pintu, suara tendangan dan pukulan, erangan para penjaga, maupun gerutuan Yifan.

Pintu terbuka, dan beberapa figur yang begitu familiar menghambur masuk. Joonmyun menelan ludah. “Bagaimana—”

“Jongdae! Kau lupa? Dia benar-benar penyihir.”

“Hanya melakukan pekerjaanku, itu saja.”

“Cukup reuninya, kita punya masalah lebih besar sekarang.”

Kepalanya pening. “Ada apa?”

“Kapal ini akan tenggelam,” Zitao menyentuh lengannya, menstabilkan postur Joonmyun. “Minseok mendengar kejadiannya; salah satu awak yang berjaga mengantuk dan tidak melihat karang—kau tidak merasakan benturan keras beberapa saat lalu?”

“Banyak, tapi semuanya dari ayahku,” Joonmyun berjalan oleng. “Dimana dia?”

Setiap koridor dan dek sudah dipenuhi manusia. Keenam sekawan berlarian menembus lautan tubuh dan barang-barang sampai puncak anjungan. Kapal sudah miring lima puluh derajat. Sekoci-sekoci diturunkan; beberapa kelebihan muatan, sebagian belum penuh tetapi sudah berlayar. Pria dan wanita di dalamnya masih berpakaian rapi—tak ayal lagi penumpang Kelas Satu yang menyuap para kru agar berangkat lebih cepat. Di kejauhan Joonmyun mengenali satu siluet sebagai sosok ayahnya, dan hatinya serasa diremas begitu nyeri—

Pada akhirnya, sang ayah bahkan tidak berusaha untuk mencarinya.

Mereka menatap pemandangan itu nanar, tahu tak ada kemungkinan untuk selamat.

Well,” Yifan merangkul bahu Joonmyun. “Setidaknya ketika regu pencari menyelamatkan jasadmu, kau masih terlihat tampan.”

“Kurasa kau benar,” ia tertawa pahit menatap kemejanya yang bernoda darah, setelan tiga lapisnya masih lengkap. Satu kancingnya bahkan masih mengilap.

“Dengar, teman-teman,” suara Luhan bergetar, terdengar rentan tanpa nada sarkastiknya yang biasa. “Untuk sekali ini saja, aku ingin menjadi melankolis dan meminta peluk.”

Secepat kilat mereka berenam merubungi Luhan dalam satu lingkaran erat.

“Aku takut,” isak Zitao kala badan kapal makin lenyap dilahap samudera. Terbayanglah di masing-masing benak mereka dingin air yang menusuk tulang, mengisi pori-pori begitu lamban sampai mencekik. “Aku tak ingin mati. Jarak kita hanya dua hari dari kebebasan. Semua harapanku—Yifan, Luhan, kau, kita—”

“Taozi,” Joonmyun mengetatkan pelukannya. “Kau ingat kata-kataku? Tentang mitologi bintang dan semua itu?”

Zitao mengangguk, sebelah tangannya ditekan ke wajah untuk menutup air mata yang tumpah. Kapal bergoyang hebat kian condong, raungan minta tolong dan sedu-sedan pilu semakin menulikan.

“Kita akan bertemu lagi. Dan kita akan mewujudkan impian kita yang tertunda. Musim dingin berikutnya, bahkan di malam Natal kalau kau mau. Malam tahun baru juga, jika itu keinginanmu.”

Tiap-tiap manusia memiliki bintangya sendiri.

“Benarkah?”

Ia menautkan kelingkingnya dengan milik Zitao, merasakan lelehan air matanya sendiri jatuh ke pipi. “Ya. Kau ingat cara mengetahui datangnya musim dingin, Zitao?”

Zitao menelan ludah, berbisik tanpa suara. “Orion.”

“Bagus, anak pintar,” bayangan langit terpantul di laut kelam dan bintang-bintang menari di permukaan, sangat, sangat dekat. “Aku akan menemui di sana. Aku akan menemukanmu di rasi bintang Orion.”

Ketika ajalnya tiba, bintangnya jatuh ke bumi.

Joonmyun membiarkan dirinya tenggelam—entah oleh langit atau laut, malam itu keduanya seakan-akan menyatu. RMS Deitic bersama kemegahannya menghilang di horizon, angkasa bersuka cita.

Jiwa yang mangkat naik bersanding dengan dewa-dewa.

—fin.—

Advertisements

12 responses to “i’ll see you by the orion

    • Halo, saya perihelion.

      Terima kasih sudah baca tulisan saya, sampai bilang ngefans segala TT________TT #matikesenengan Saya belum sempat baca-baca karya author lain, my apologies– hopefully I can read yours soon 😉
      Indohogwarts– how did you know? OuO Sayangnya saya hanya setengah jadi di sana, tidak pernah daftar sampai selesai :p
      Are you active as a roleplayer? 😀

      • anak IH punya–ciri khusus dalam tulisannya. kalau diibaratkan orang kayak ada auranya gitu #ngaco well, yang paling kelihatan waktu kamu pakai kata 'manik' sebagai pengganti kata 'mata' sih. hahaha.

        saya nggak aktif lagi, tapi udah mondar-mandir di IH sejak 4-5 tahun yang lalu, jadi familiar sama gaya bahasanya 😉

        btw, WAH INI JUGA BAGUS CERITANYA. somehow, kayaknya cara kita ngeliat kepribadian member sama… (dan kamu nulis EXO-M terus YEYYEY<3)

      • oh I see :)) same goes with ‘biner’ then? XD
        ahhh kakak senior /bows kalau saya mondar-mandir di forum ini-itu tapi sekarang ga ada yang jalan :’))
        thanks (again!) for reading TT___TT cerita ini begitu pointless saya sampai malu dan entah kenapa buat saya EXO-M lebih gampang ditulis, lebih mudah dimengerti [?]

  1. Pingback: Recommendation | ddanghobak·

  2. sumpah ff ini daebak banget.
    sangat suka sy sama endingnya.
    gaya bahasanya pun great banget.

    pengen deh baca other ff punya authornim, heheh.
    ada gak?
    kalo ada minta linknya ne, jebal thor.
    aku jatuh cinta sama karya author ^^

    • Halo, saya perihelion.

      Firstly, thank you so much! Saya senang kalau fanfic ini cukup bisa dinikmati, hehe. Sayangnya, belum ada karya lain saya yang bisa saya post dengan nama pena ini. I will try to write more, though, so please enjoy this blog as much as you can! 😀

  3. Pingback: [2606, +2] Personal Favorite List | The Moving Diary·

  4. halo peri! (or should i call you with ‘kak’, because i was born in 1998) ini pertama kali aku baca fanfic kamu dan aku udah langsung jatuh cinta hahaha XD

    i really, really love your diction. gaya penulisan kamu luwes banget dan pembawaannya enak, jadi ga ngebosenin. ini bagus banget beneran deh haha. aku suka gimana kamu ngebangun karakter baik junmyeon, yifan, luhan, ataupun tau. dan semua yang ada di sini. kamu hebat bangeeet ihihihi. anyway, keep writing ya dan semangat terus! XD

  5. First, kenalan dulu. Boleh?
    Aku Siichan. Sifa, kalo penname itu terlalu berat. Anak 00 line.
    Astagaaaa aku suka banget cara eonni ngejelasin alurnya. Tata bahasanya apa lagi. Astaga musti banyak belajar dari eonni. Dan yang paling aku suka itu tentang si Junmyeon yang dikira mau bunuh diri. Favorit itu xD. Keep writing eonni!

  6. ………..*blank*
    Pernah ngerasa berada di situasi yang mengguncang sampai2 ga tahu harus omong apa? Ya kayaknya aku juga gitu deh 😀 fanfict ini bener2 AWESOME, daebak, keren, pokoknya segala adjektiva yang baik aku pakai karena oh my God.. aku suka pake banget sama cerita ini. Langsung fallin in love dan nagih gitu. Tema yang unik, penyampaian yang asik, detail yang memukau. aku suka karakter mereka berenam itu. Yifan is seriously cool there, I like it 😀 baca cerita ini serasa nyemplung ke era2 jadul ala titanic gitu, aku suka analogi orionnya. kalo fanfict ini dibikin film pendek (panjang apalagi, boleh banget) kayaknya bakal super duper keren. aaaa~~ pokoknya beribu2 jempol hadir untuk fanfict ini dan authornya 😀 *kisseu

  7. Pingback: Recommendation: Letter I | tmd·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s